” Telah selesai”

December 15th, 2006 by istunta

Akhirnya saat-saat paling bersejarah dalam perjalanan akademis tahap pertamaku berakhir dengan tersenyum. Meskipun tidak maksimal tapi akhirnya selesai juga :)
Bahagianya hati ini tidak terucapkan. Seperti merasakan kebebasan yang tiada tara. Padahal di depan sana tanggung jawab baru  sudah menanti. Tapi peduli amat… rayakan doloe yg sekarang heuhuehee…
Terimakasih Tuhan
akhirnya Engkau berbicara lagi dengan cara yang unik
pada akhirnya hanya Engkau yang menemaniku
Disaat dunia sepi tak bersuara
namun Engkau memotivasi dengan bijaksana
Tak kusangka sebuah karya  yang dirajut dengan peluh
Seolah tidak berbekas dalam benakku
Namun sesuatu yang tidak terajut dengan peluh
membuahkan hasil yang mengundang pujian

Entah  mau bicara apa lagi selain Pujian dan Hormatku padaMu
Telah selesai :)
Saatnya memulai perjalanan baru

“Sampai kapan???”"

November 26th, 2006 by istunta

Dalam kesendirian aku menemukan ketenangan
Dalam keheningan aku merenungkan masa depan
Sampai kapan aku dapat bertahan
untuk tetap menjaga hati dan pikiran

Entah kenapa ketakutan untuk menyerah pada keadaan
Lebih membayangi dari pada ancaman hidup dalam kemiskinan
Kehilangan idealisme menjadi phobia matinya harapan
Akan sebuah filosofi hidup mengenai sebuah pengabdian

Mungkinkah perkataan dan ide-ide tentang kebenaran
Tetap terdengar dalam hatiku?
Ataukah bahasa kompromis bertopengkan kemunafikan
menjadi mainan dalam keseharian?

Pembelaan untuk bertahan hidup
dan cita-cita untuk menikmati kemapanan
membuatku untuk selalu berpikir
sisi lain dari mimpi-mimpi surgawiku

tidak mungkin untuk berbicara
ketika perut tersiksa
tidak mungkin untuk beristirahat
sedangkan hidup dalam kekurangan

ini harus dipecahkan
dengan sebuah keputusan
untuk berjuang..
atau menunggu waktunya saja untuk memberikan jawaban pertanyaan
Sampai kapan???

“Zaman Baru”

November 22nd, 2006 by istunta

Hari ini kemerdekaan datang
memberikan kebebasan bagi kebiasaan
Sebentar lagi aku akan terbang
menembus awan rutinitas yang membosankan

Kenikmatan dan kebahagiaan
menyatu dalam suka cita
sorak sorai kegembiraan
ekspresi dari moment yang luar biasa

meskipun sebenarnya perjalanan masih panjang
sepertinya keadaan saat ini jauh berbeda
ini bukan mimpi kawan
ini kenyataan yang membuat selalu ingin tertawa

zaman postmodern
membuat segala sesuatunya harus direkonstruksi
hakekat dan makna seolah-olah menjadi sesuatu yang utama
Sekarang kamu mau kemana?

sudahlah saatnya berhenti sebentar
istirahatkan pikiranmu
mari kita tidur sejenak
karena ini adalah zaman baru

DICARI, GENERASI PAHLAWAN MASA KINI

November 10th, 2006 by istunta

Pepatah lama
mengatakan mati satu tumbuh seribu. Kata-kata tersebut menggambarkan optimisme
generasi pahlawan saat itu yang rela mempersembahkan nyawanya demi Ibu pertiwi.
Pekik slogan Merdeka atau Mati menjadi pembakar semangat para pahlawan kita
dalam merebut kemerdekaan negara Indonesia. Tidak sedikit yang gugur dalam
pertempuran-pertempuran yang terjadi dalam merebut dan mempertahankan
kemerdekaan negara Indonesia. Bahkan tidak jarang kepentingan pribadi sering
dikesampingkan sebagai wujud rasa cinta tanah air.

 

Nilai-nilai
kepahlawanan seperti kepemimpinan, rela berkorban, kerja keras, keberanian,
kejujuran yang dicontohkan dalam sejarah Indonesia seharusnya menjadi cerminan
bagi karakter bangsa yang semestinya wajib terukir dalam setiap pribadi
Indonesia yang merdeka. Semangat untuk bersatu melawan penjajahan seharusnya
menjadi filosofi Indonesia masa kini yang bermimpi untuk menjadi bangsa yang
besar. Tapi ironisnya bangsa ini lebih tertarik pada nilai-nilai konsumerisme,
vulgarisme dan hedonisme yang justru membawa bangsa ini pada penjajahan model
baru. Jalan pintas menjadi trend yang wajar untuk mencapai kesuksesan. Sehingga
kekayaan yang didapat dari hasil korupsi menjadi sebuah prestasi yang dianggap
patut dibanggakan. Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah terjebak
dalam utang yang saat ini sepertinya dianggap normal oleh kebanyakan orang. Bahkan
melimpahnya sumber daya manusia Indonesia justru tidak diimbangi dengan
kualitas masing-masing pribadi yang memiliki potensi besar membawa bangsa ini
keluar dari setiap permasalahan yang menimpa bangsa ini. Jika melihat lebih banyaknya
sekolah-sekolah dan Universitas di negeri ini apabila dibandingkan dengan zaman
sebelum kemerdekaan  menimbulkan
pertanyaan sederhana kemanakah kaum terdidik negeri ini? Dahulu dengan
terbatasnya generasi yang mampu menikmati bangku sekolah justru lahir
generasi-generasi berkualitas seperti Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Sutan
Syahrir yang suaranya terdengar sampai panggung-panggung intelektualisme dunia.Apakah
saat ini kaum terdidik sudah menjadi pragmatis, apolitis dan hedonis dan
cenderung memikirkan “hidup enak”, dugem di Hardrock, naik BMW seri terbaru,
beli villa di pinggir pantai dan menambah jumlah rupiah di rekening tabungannya
ketimbang memikirkan kondisi dan permasalahan yang menimpa bangsa ini??? Bangsa
ini berubah  menjadi bangsa yang
konsumtif dan destruktif karena melahirkan generasi-generasi yang individualis
dengan kepedulian terhadap kemajuan bersama yang minim sehingga membawa kita pada
pertanyaan inikah negeri yang dahulu dikenal dengan kepahlawanannya?

Menyedihkan,
mungkin kata-kata itu akan  diucapkan
oleh para pahlawan kita di alam baka sana. Meskipun di banyak kota besar dan
kecil tidak sulit dijumpai taman makam Pahlawan, tapi sangat sulit menemukan
pahlawan-pahlawan baru yang mau menjadi
inspirator zaman, pelopor dan tidak hanya sekedar puas menjadi produk zaman.
Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang mau berjuang agar masyarakat menjadi lebih cerdas, sejahtera dan
beradab. Masalah-masalah riil seperti kemiskinan, pengangguran, diskriminasi
pendidikan, kebodohan, globalisasi, kerusakan lingkungan, krisis air, banjir,
kekeringan, lumpur lapindo, korupsi, anarkisme, kebakaran hutan, kriminalitas,
fundamentalisme, terorisme, kerusuhan antar etnis, narkoba bahkan sampai
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi tantangan bagi generasi
sekarang untuk diperangi bersama. Siapa lagi yang bisa diharapkan untuk
menyelesaikannya selain kita yang lahir, tinggal, dibesarkan dan bahkan mungkin
akan mati di Indonesia ? Apakah kita akan menjawab dengan kata:“Het volk is
redeloos.De regering is radeloos.Het lan is reddeloos”. Artinya secara bebas:
Rakyat sudah tidak dapat berbicara lagi.Pemerintah sudah bingung.Negara ini
(seolah-olah) tidak dapat tertolong (lagi) (Prrof sahetapy, 2005). Semoga
seluruh bangsa Indonesia tidak berpikiran seperti itu. Masih ada orang-orang
yang memiliki otak dan nurani yang cinta tanah air. Masih ada generasi-generasi
pahlawan yang akan bangkit yang mau berkorban bagi bangsa ini. Pahlawan-pahlawan
itu mungkin sedang tertidur dan terbuai dengan kesenangaan sesaat.Mereka pasti
bangun dan akan berkata: saya siap untuk menjadi pahlawan bagi bangsa ini.Sambil
berharap pada secuil harapan tidak henti-hentinya Ibu pertiwi berseru: Dicari,
Generasi Pahlawan masa kini!!! Siapa yang berminat??

 

Selamat Hari
Pahlawan …..(in memorial)

 

Kasih yang menghidupkan

November 9th, 2006 by istunta

 

KASIH YANG MENGHIDUPKAN

 

 

aku melihat
diriku

dalam bayangan
kegelapan

Hanya ada
keterbatasan berbalutkan kelemahan

tidak ada harapan

hanya ada
penyesalan dan pertanyaan

kenapa ada
kehidupan?

 

aku melihat
keluargaku

diselimuti kabung
kematian

hanya ada kesedihan

tidak ada
kebahagiaan

hanya ada
suara-suara kecil

yang rindu adanya
kesatuan

namun kenyataan
mengatakan

kami bernyanyi
dalam kesepian

dengan
mimpi-mimpi semu

akan adanya pemulihan

pikiranku kembali
menanyakan

kenapa ada
kehidupan?

 

aku melihat
duniaku

Dunia yang
dipenuhi kenajisan

kejahatan
bertopengkan kemunafikan

menjadi sajian
memuakkan dalam keseharian

kebencian dan
pemberontakan

menjadi cerminan
jiwa-jiwa yang bosan

dengan segala
kesesakan dan penderitaan

orang-orang berlari
tanpa tujuan

kebinasaan dan
kehancuran

seolah-olah
menjadi takdir setiap insan

jeritan-jeritan
hati yang tertawan

menggema dari
ujung-ujung jalan

semuanya rindu
akan adanya pembebasan

dimana tidak ada
lagi air mata dan kesesakan

namun tidak ada
satupun tempat

yang masih dipenuhi
kedamaian

pikiranku kembali
menanyakan

kenapa ada
kehidupan?

 

Enyahlah wahai
pekat malam

tidak ada terang

yang akan
membuatmu merasakan kehidupan

semuanya hanya
angan-angan

Teruslah bertahan
dalam kematian

dan teruslah
bertanya kenapa ada kehidupan?

 

Hening…….

 

Dalam kesunyian

aku mendengar

ada suara yang
berseru-seru dipadang gurun

Masih ada
kehidupan

masih ada oasis

yang bisa
memberikan kelepasan

dari kedahagaan

 

Dalam ketidak
percayaan aku mendekat pada harapan

Dengan keraguan
aku menghampiri

Tahta suci yang
dikelilingi cahaya lembut

yang memberikan
kedamaian dan sukacita

 

Ada suara  berkata ”Aku mengasihimu”

Pikiranku mencari
dan bertanya

Suara siapa itu?

Lembut terdengar
semakin keras

”Aku mengasihimu”

 

Kasih?

Bohong….

Semuanya itu
dusta…

beraninya Engkau
berkata seperti itu

emangnya Engkau
siapa?

 

Akulah Yang Awal
dan Akhir

Kebenaran dan
kehidupan

yang membebaskan
dan memulihkan

yang menyembuhkan
dan menguatkan

 

Aku yang ditolak
dan disalibkan

Aku yang
menanggung penghukuman agar engkau dibebaskan

Aku yang menerima
cambukan agar engkau dipulihkan

Aku yang disiksa  agar engkau disembuhkan

Aku yang turun ke
dunia kematian kematian agar engkau dihidupkan

Aku yang
dibangkitkan agar engkau memiliki pengharapan

 

Sekarang
bangunlah

bangkitlah wahai
pahlawan

engkau sudah lama
tertidur

bukalah hatimu

percayalah
pada-Ku

Aku akan
memulihkanmu

 

Hening…..

 

Suasana kudus
yang membuatku nyaman

menyelimuti tubuh
yang berdosa

malaikat-malaikat
surga datang melayani

menyanyikan
simponi-simponi surgawi

yang begitu indah
mengalun

membuatku terbang
dan melayang

dalam kebebasan
dan kedamaian

yang tak
terlupakan

 

Satu detik tak
terduga

saat dimana
logika tidak mampu menjelaskan

ketika hati
diterangi oleh cahaya suci

yang begitu
hangat dan lembut terasa

menyinari setiap
sisi gelap di hidupku

membuka setiap
pintu-pintu yang terkunci

membebaskan jiwa
yang terbelenggu oleh nafsu

 

Satu kata cinta
menyentuh hati

membuatku
menemukan arti

bahwa aku tidak
sendiri

setiap pengalaman
memberikan makna

bahwa ada sesuatu
yang berharga

yang menjadi
alasan kenapa ada kehidupan

 

Seketika itu juga
terbukalah hatiku

runtuhlah setiap
kubu-kubu pertahanan

yang membuatku
tertawan

setiap luka yang
busuk  yang tak terobati

sembuh seketika
dengan satu pelukan

semua beban-beban
 yang membuatku sulit bernafas

hilang seketika
dengan satu sentuhan

 

Air mataku
berjatuhan

bibirku tak mampu
berucap

Untuk pertama
kalinya

Aku merasa
diterima Sebagaimana aku ada

Untuk pertama
kalinya

Aku merasakan
pribadinya benar-benar Nyata

Untuk pertama
kalinya

Kematian berlalu
dari pikiranku

 

Sungguh hatiku
terpesona

Dengan
kehadiranNya

tanpa suara dan
tanpa kata

aku memandang-Nya
dengan penuh ucapan syukur

untuk pengalaman
yang tak terlupakan

Kasih yang
menghidupkan

yang membuatku benar-benar
hidup.

 

Terima kasih
Tuhan….

 

dari aku yang
dihidupkan …..

 

 

 

Kenapa Hidup Tidak Adil??

November 4th, 2006 by istunta

Dalam kehidupan seringkali kita melihat,banyak hal yang membuat kita miris karena jika dilihat secara nalar terdapat paradoks yang membuat hati nurani kita melihat bahwa Dunia ini penuh dengan ketidak adilan.

Seringkali kita lihat seorang karyawan yang idealis, tidak menjilat atasan dan tidak mau neko-neko dengan jabatannya yang mengerjakan tugasnya dengan baik dan tekun justru dalam karirnya mengalami kemacetan.
Ironisnya, orang seperti ini justru terkadang menjadi cemoohan dan bahkan sering disebut sebagai orang Munafik. Kalau orang seperti ini dijadikan pemimpin, mau dikasih makan apa anak buahnya???

Dalam hal lain, kita sebagai orang Kristen yang memiliki komitmen untuk hidup sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan terkadang terheran-heran melihat orang lain yang hidup dalam dosa ternyata secara jasmani justru terlihat lebih diberkati. Uangnya banyak, anaknya bisa sekolah di sekolah elit, bisa bolak-balik keluar negeri setiap hari, bahkan bajunya saja bisa lebih mahal dari anggaran biaya makan kita sehari-hari.Hal ini membuat kita berpikir apakah berkat secara rohani tidak otomatis diikuti berkat jasmani???

Seorang pengusaha yang kaya raya pun terkadang harus menyiapkan uang lebih untuk hanya sekedar memenangkan tender ataupun mempermudah agar barangnya bisa dengan cepat dipasarkan. Atau mungkin bagi pengusaha kecil yang hanya sekedar berjualan pisang goreng dipinggir jalan, mereka juga dihadapkan dengan kewajiban untuk membayar upeti untuk sekedar uang keamanan agar dia dapat tetap dengan tentram bisa menjalankan usahanya. Padahal secara tidak sadar dengan berlaku demikian kita menyetujui bahwa tindakan-tindakan seperti itu adalah hal yang wajar.Kalau tidak melakukan itu maka bisa dapat dipastikan bukan jalan tol yang dilewati dalam membangun kerajaan bisnisnya, tapi jalan kematian menanti diujung sana. Cara-cara seperti ini dianggap sesuatu yang wajar bahkan bagi seorang Kristen sekalipun. Sehingga timbul pertanyaan jika kita tidak mau mengikuti tradisi ini apakah kita tidak bisa berusaha?

Sebuah harapan untuk dapat berpikir tentang keadilan adalah pada dunia pendidikan. DUnia dimana obyektifitas didengungkan sebagai motivasi untuk kesejahteraan manusia. Namun dalam dunia inipun kita harusjuga kecewadan skeptis. Si Budi harus putus sekolah agar bisa mencari nafkah demi sesuap nasi, sedangkan tommy dapat dengan enak sekolah sambil membuang-buang nasi yang sudah dimasak di rumah hanya karena lagi pingin makan hamburger. Si Anna yang rajin masuk kuliah dan rajin belajar dapat dikalahkan dengan si susi yang males kuliah, rajin memberikan upeti pada dosennya dan keratif dalam mencontek pas ujian. KEtika tamat gelar cumlaude dapat diraihnya dengan mudah, padahal skripsinya hasil transaksi haram antara dosen yang butuh biaya beli mobil dengan murid yang bingung duitnya mau diapakan .Jika demikian kenapa harus ada pendidikan????

Sebuah standar obyektif dalam berbagai aspek kehidupan merupakan suatu hal yang langka untuk dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Hal ini yang seringkali membuat manusia justru secara tidak sadar menciptakan suatu dunia yang penuh dengan ketidakadilan. Sehingga suasana seperti Hutan Rimba dapat ditemui dengan mudah disekitar kita. Siapa yang kuat dia yang menang. Itulah keadilan yang wajar di dunia ini. Keadilan yang seringkali membuat sekelompok orang keluar sebagai pemenang dan sekelompok lain didaulat sebagai pecundang. Kenapa dunia ini tidak dipenuhi dengan para pemenang? Sebabnya karena memang manusia memiliki hasrat untuk menjadi mangsa bagi sesamanya. Manusia tidak senang kalau ada orang lain yang lebih sukses, lebih kaya, lebih berhasil, lebih bahagia. Jika ada orang lain yang lapar, sengsara, penuh penderitaan dapat dihitung dengan jari berapa orang yang mau dengan rela hati ikut membantu, sisanya bersikap acuh tak acuh seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bagi beberapa yang lain mungkin hanya bisa puas untuk sekedar bersimpati dan berkata: kasihan yah dia, untung saya tidak mengalami hal seperti itu.

Maka bagi manusia ketidak adilan itu adalah hal yang wajar. Itu adalah bagian dari warna-warni kehidupan. Hiduplah di surga jika ingin terus mendapatkan keadilan. Ini masih di bumi Bung!!!!! Engkau akan dianggap alien jika bertanya kenapa dunia ini penuh ketidakadilan.
Seharusnya kamu berkata kenapa kita harus berbuat adil? Dunia ini saja sudah tidak adil. Pergi saja dari dunia ini jika ingin mendapat keadilan.Jika tidak engkau akan dibingungkan dengan pertanyaan:" kenapa dunia ini penuh dengan ketidak adilan???"

Selamat berpikir saja kalau begitu. Kami semua masih ingin melanjutkan kehidupan ini. Kehidupan yang dipenuhi dengan ketidak adilan , itulah yang dapat membuat kami tetap aman dan tentram…. Hidup sebagai manusia normal yang menganggap bahwa ketidak adilan adalah sesuatu yang wajar  ^_*

Untuk sahabat-sahabatku yang berpikir tentang keadilan :)

“Saya Hanya Manusia Biasa”

October 30th, 2006 by istunta

"Satu hal yang perlu kamu tau kamu tuh orang yang banyak omong.
Apa yang kamu omongin gak sesuai dengan yang kamu perbuat"

Dua kali perkataan ini aq dengar dua minggu terakhir. Kata-kata ini seperti pedang bermata dua yang menyayat setiap lapisan hati yang membuatku berpikir kembali tentang kata perubahan.
Aneh bin ajaib, kenapa akhir-akhir ini Tuhan berbicara lewat kata-kata penghakiman?

Seperti palu godam yang mengeluarkan kilatan cahaya secepat itulah panah penghakiman itu melahirkan stigma yang seolah-olah dalam wajahku tertulis "You are Guilty". Sebenarnya bagiku bukanlah masalah siapa yg mengucapkan kata-kata itu. Tapi heran saja, kenapa sepertinya standar kehidupan yang dicap orang ada padaku menimbulkan kesan bahwa aq adalah malaikat yang tidak pernah salah? Lucifer saja sang malaikat penyembah itu yang sering bergaul dengan Tuhan bisa jatuh dalam kesalahan yg membuatnya bisa terusir dari SUrga dan kehilangan kemuliaannya. Bagaimana dengan saya yang hanya manusia penuh dosa yg hanya karena kasih karunia menerima pengampunan?

Kata-kata pembelaan pasti keluar dari setiap orang yang berbuat suatu kesalahan. Alasan klise yang berabad-abad sering diperkatakan adalah "Saya hanya manusia biasa" pasti menjadi ritual umum setiap terdakwa yang didapati melakukan kesalahan. Namun dalam konteks ini saya diajar untuk berpikir bahwa setiap kesalahan yang pernah dilakukan merupakan tugu peringatan bahwa saya bukanlah manusia sempurna yang tidak lepas dari kesalahan. Tapi itu tidaklah cukup, sebab jika hanya sekedar menjadikannya monumen dan tidak berbuat apa-apa setelah itu maka itu tetaplah hanya sekedar usaha menghibur diri.

Karena itu belajarlah untuk tidak bohong dalam perkataan, menyimpang dalam perbuatan dan sesat dalam pikiran. Kenapa harus belajar? Karena perubahan itu tidaklah semudah memejamkan mata. Ketika ingin melihat terang tinggal membuka mata dan ketika ingin menikmati kegelapan tinggal menutup mata.Apakah engkau sedang berteori lagi? Entahlah,memang sulit dipungkiri bahwa dunia praksis berbeda dengan dunia imajiner. Terkadang ada faktor-faktor lain yang membuat pilihan yang diambil berbeda dengan kesimpulan awal. Tapi bukankah masih ada prinsip?

Berbicara mengenai prinsip tidak terlepas lagi  pada perbincangan mengenai idealisme. Namun berbicara mengenai sikap maka akan dihadapkan pada pilihan yang absolut dan relativ.Jika menggunakan tolak ukur kebijaksanaan maka mindset "God will" tentu dijadikan prinsip. Namun hal lain dalam diri manusia yaitu "Free will" akan berbicara beda ketika segala sesuatunya diawali dengan kata "Aku".

Jadi harus bagaimana??
Teruslah belajar kawan. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa ketika semuanya diawali dengan kata Aku maka engkau tidak akan pernah bebas dari perkataan "Saya hanya Manusia biasa".

Yesus berkata: ketika Aku akan naik kesurga maka Aku akan memberikan kepadamu Roh Penolong yang akan membantumu dalam segala hal.

Terdengar metafisik namun kalau mau terus berpikir logis maka tetaplah puas dengan perkataan "Saya Hanya manusia Biasa".

“Males Mikir”

October 30th, 2006 by istunta

Sebenarnya banyak sekali yang pingin diungkapkan lewat tulisan
Entah kenapa liburan panjang membuat otakku sepertinya keram
Kata-kata yang biasanya melimpah dengan makna
jadinya hilang tanpa pesan

Saat ini sebenarnya waktu terasa begitu panjang
Setiap detiknya dapat kunikmati dengan nyaman
Mungkin ini yang membuatku kehilangan kepekaan
dan kejelian dalam memikirkan sesuatu

Ataukah ini hanya salah satu bentuk lain dari rasa malas?
Melihat kawan-kawan yang sibuk dengan dunia kerjanya
kembali membuat mataku terbuka
Bahwa dalam fase berikutnya
Tidak ada lagi istilah "malas berpikir"
Kalau mau sedikit dipaksakan
enaknya "malas untuk tidak berpikir"

^_*

Le Peuple (Rakyat)

October 25th, 2006 by istunta

Hanya bermantel dingin membeku
dikala turun hujan gerimis,
yang menimpa seluruh Paris,
kaki-kaki berlumur lumpur,
menghadapi senapan mesin
hanya bersenjata beberapa senapan tua,
pekak telinga karena teriak kelaparan
yang menggantikan perasaan halus,
dan dalam kehausan membakar jasad
tetap tampil dalam perjuangan besar ini.
Dalam pertempuran Februari atau Revolusi Juli,
di kala para anggota ditembaki dalam pertempuran
untuk apa dada telanjang jadi korban tembakan pasukan tempur,
dan disiksa dipinggir-pinggir jalan,
hingga yang tersisa hanya pakaian compang-camping.
Inginkah mereka akan atap istana yang gemerlapan
untuk menyembunyikan tulang-belulang yang beku kedinginan,
inginkah mereka berguling di ranjang-ranjang mewah ?
Tidak! Bukan untuk itu mereka luka.
Yang mereka butuhkan adalah hak-hak mereka dan roti !
Roti untuk anak-anak mereka yang menderita
tersiksa kemiskinan dan kelaparan!
Hak-hak mereka lah yang harus ditakar pada timbangan,
dimana diukur nasib mereka.
Seharusnya, pada akhirnya di bumi Perancis
setiap orang adalah warganegara !
Tapi hak-hak yang diidamkan ini dibayar dengan nyawa,
harus mereka rebut dengan perjuangan.
Di Istana para Penguasa,
dengan jari tangan-tangan mereka yang kurus kering
telah digoreskan mereka kata-kata:
Hidup  Merdeka  atau  Mati

Eugene Pottier-1848

Himne Internasionale

October 25th, 2006 by istunta

Sajak:  Eugene Pottier; Musik:  Pierre Degeyter

Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Meng’glora dendam dalam dada,
Kita berjuang ’tuk kebenaran.
 
Hancurkan seluruh dunia lama,
Kaum budak, bangun, bangun!
Kita yang kini hina-papa,
Akan menguasai dunia.

Perjuangan penghabisan,
Bersatu berlawan!
Internasionale
Pastilah di dunia!

Tiada maha-juru-s’lamat,
Tidak Tuhan atau raja.
Kebahagiaan umat-manusia
Harus kita sendiri cipta.

Bebaskan jiwa dari penjara,
Rebut kembali hasil kerja.
Kobarkan api, seg’ra tempa
Selagi baja membara!

Perjuangan penghabisan,
Bersatu berlawan!
Internasionale
Pastilah di dunia!

Kitalah kaum buruh dan tani,
Tentara-kerja perkasa.
Bumi hanya milik pekerja,
Benalu tak berhak serta.

Cukup sudah darah-kringat terhisap,
Saat pasti akan tiba.
Setan siluman musnah lenyap,
Surya cemerlang senantiasa!
 
Perjuangan penghabisan,
Bersatu berlawan!
Internasionale
Pastilah di dunia!