<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Refleksi Diri</title>
	<atom:link href="http://istunta.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://istunta.blog.friendster.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 19:23:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Rancanganku bukanlah rancanganMu</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/11/rancanganku-bukanlah-rancanganmu/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/11/rancanganku-bukanlah-rancanganmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 03:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/11/rancanganku-bukanlah-rancanganmu/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku</em></p>
<p>Dear Blog,<br />Sebenarnya blog di friendster ini sudah tidak aktif lagi untuk tulisan-tulisan yang sifatnya reflektif karena sudah dipindah ke blog baru saya di <u><span style="color: #66ccff"><em>http://www.istunta.blogspot.com</em></span></u>&nbsp; dengan nama Jurnal Refleksi Diri.Tapi entah kenapa hari ini blogger susah sekali dibuka jadi karena sudah ngebet pengen nulis akhirnya rencana itu diabaikan saja.Yang penting libido tersalurkan hehehe.</p>
<p>Refleksi dimulai dari quote ayat firman Tuhan diatas yang saya cantumkan juga di profil friendster saya ini. Sejak di jakarta harus saya akui banyak hal yang saya rencanakan tiba-tiba hancur berantakan dalam waktu beberapa bulan. Hal ini membuat saya harus berjalan tidak tentu arah dan cenderung nekat tanpa strategi (hanya coba-coba). Bahkan tekanan juga muncul dari luar diri, baik dari lingkungan, keadaan dan juga keluarga. Satu hal yang membuat saya tetap yakin atas apa yang Tuhan janjikan pada saya adalah firmanNya.</p>
<p>Dia selalu memberikan kekuatan padaku disaat dimana diri ini tidak mampu menangung segala perkara yang datang seperti angin puting beliung. Saat dimana kelelahan begitu menguasai hadiratNya seperti setetes embun ditengah padang gurun.Hanya satu hal yang seringkali membuat kebimbangan terkadang muncul adalah saat-saat dimana rancanganNya tidak sesuai dengan rancanganku.Apa yang aku bayangkan ternyata berbeda dengan yang Dia rencanakan. </p>
<p>Disinilah saat-saat tersulit untuk tetap berpegang pada iman ketika segala sesuatu tertutup dan seolah-olah tidak ada jalan.Tapi uniknya saat ini masih ada satu jalan yang terbuka, dan jalan itu secara rasio begitu melelahkan dan penuh dengan rintangan. Sempat berpikir untuk buat jalan sendiri, ternyata hari ini &quot;terbukti&quot; sudah bahwa rancanganku bukanlah rancanganNya. Jalan itu tertutup bagiku.</p>
<p>Tahun 2007 sebentar lagi berakhir dan bulan Desemberpun akan segera datang. Ini berarti memasuki 8 tahun perjalananku bersamaNya. Jika kurenungkan perjalananku, justru banyak sekali ketidaksetiaan yang kutunjukkan daripada ketaatan kepadaNya. Tapi Dia selalu saja dengan kasihNya menunjukkan kebaikan dalam hidupku. Hidupku dikuasai oleh kesepian, dimana tiada keluarga, sahabat yang mencintaiku sebagaimana apa adanya. Hanya Dialah yang memberiku pengharapan untuk tetap hidup dan percaya bahwa dalam dunia ini masih ada Kasih Tanpa Syarat.</p>
<p>Entah sampai kapan aku akan tetap berjalan dalam badai ini. Ingin sekali menikmati pelangi yang indah itu. Dimana aku bisa bernafas lega dan bersuka cita.Berlari-lari dalam taman kebahagiaan dimana tidak ada tangisan dan kebimbangan.Dengan penuh kepuasan kutatap hasil karyaku yang kupersembahkan padaNya.Dan kulihat dia tersenyum kepadaku dan berkata: &quot;Anakku aku bangga kepadaMu&quot;.</p>
<p>Kapan itu terjadi?Jika aku tetap berjalan dalam rancanganNya bukan dalam Rancanganku. Hal tersebut pasti akan terjadi.Bukan mimpi, bukan angan-angan tapi semuanya menjadi kenyataan seperti apa yang Dia janjikan.</p>
<p>Amin. Terjadilah menurut kehendakMu Bapa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/11/rancanganku-bukanlah-rancanganmu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Paskah</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/04/renungan-paskah/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/04/renungan-paskah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2007 16:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/04/renungan-paskah/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #9999ff">Isa</span></strong></p>
<p><span style="color: #9999ff"><em><strong>Chairil Anwar (1943)</strong></em></span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Itu Tubuh</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Mengucur darah</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Mengucur darah</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Roboh</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Patah </span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Mendampar <br />Tanya: aku salah</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Kulihat Tubuh mengucur darah </span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Aku berkaca dalam darah </span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Terbayang terang di mata masa</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Bertukar rupa ini segera<br />Mengatup luka</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Aku bersuka </span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Itu Tubuh</span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Mengucur darah </span></p>
<p><span style="color: #9999ff">Mengucur <br />darah. </span></p>
</p>
<p>Dear Blog,</p>
<p>Lama tidak menulis disini, mungkin ada beberapa sahabat yang rindu akan tulisan saya. Ada beberapa hal yang belum sempat saya post yaitu mengenai Renungan perpindahan saya dari Bali ke Jakarta dan Pidato Wisuda saya yang agak sentimental itu :).. Maafkan saya kawan-kawan, pasti nanti saya akan post tulisan-tulisan itu.</p>
<p>Saat ini saya akan berbicara tentang Paskah. Bagi murid-murid Kristus moment ini adalah yang terpenting. Saat pembebasan dan pelepasan dimana jiwa-jiwa yang tertawan dimenangkan. Namun tidak banyak orang Kristen yang sadar, dibalik semua kabar gembira itu ada kematian yang sangat memilukan. Seorang manusia yang tidak berdosa menjadi tumbal karena pemberontakan kita. Iya,kita anak-anak terhilang yang sering sombong akan kemanusiaannya. Sehingga merasa dirinya Maha Luar Biasa.Namun kenyatannya adalah debu dan akhirnya kembali kepada debu. Tiada satupun yang mampu menyelamatkan dirinya sendiri, yang ada hanya kebinasaan.</p>
<p>Semuanya sia-sia, tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu tidak ada yang dapat mencapai yang Maha Sempurna. itulah dasarnya kenapa Sang Maha Sempurna turun dan masuk dalam tubuh manusia yang bernama Yesus agar manusia yang tidak sempurna dapat mencapai Tuhan Yang Maha Sempurna.Apakah sesederhana itu?</p>
<p>Manusia yang berdosa harus dihukum karena dosanya. Sebab Upah dosa adalah maut. Itulah sebabnya sampai saat inipun dunia ini tetap dipenuhi oleh orang-orang brengsek yang dengan berbagai topengnya seringkali berlagak suci.Padahal pada dasarnya kejahatan dan kemunafikan. Oleh karena itulah sebabnya Yesus yang Maha Sempurna harus masuk dalam kematian agar segala hukuman yang&nbsp; harus diterima oleh manusia yang tidak sempurna ditanggungkan kepadanya. Tapi apakah Yesus harus kalah dalam kematian?</p>
<p>Meskipun Maha Sempurna harus mengosongkan dirinya sampai titik terendah ketidak sempurnaan yaitu kematian namun kebangkitan Yesus dari dunia orang mati adalah bukti bahwa melalui Dia ada kehidupan di dalam kematian. Inilah janji yang dikatakan Yesus bahwa Dia adalah Jalan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali melalui Dia.</p>
<p>Apakah cukup sampai disitu? Jika melalui Dia ada keselamatan dan kehidupan kenapa saat ini dunia bukannya tambah baik, tetapi tambah bangsat????</p>
<p>Sabar kawan&#8230; Rupanya Sang Maha Sempurna masih tetap memberikan kehendak bebas untuk memilih. Bapa kita ini sangat demokratis, dan tidak mau bersikap otoriter. Dia memberikan kesempatan yang cuma-cuma alias gratis. Namun banyak manusia yang masih berpegang pada usahanya sendiri, logikanya, kepercayaannya dan senang dengan jalan yang menantang namun menyesatkan. Sebagaimana pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju roma bukan? Tapi apakah manusia bisa membuat jalan menuju Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang membukakannya?</p>
<p>Mungkin ada yang mengatakan hal itu omong kosong saja. Kita masih di dunia, jadi mengenai &quot;akhir dari perjalanan&quot; itu perbincangan nanti saja. Toh hal itu masih butuh pembuktian.Memang benar, tidak ada yang bisa memberikan jaminan. Tapi pertanyaannya kenapa harus memilih jalan yang sulit kawan?</p>
<p>Okelah kita berbicara tentang hidup sekarang. Manusia yang telah masuk dalam perjalanan kesempurnaan tentunya akan hidup menurut standar kesempurnaan. Karena itulah segala hal yang berbau duniawi dijalani dengan standar surgawi. Jika tidak konsekwensinya adalah kembali masuk dalam perbudakan dalam ketidak sempurnaan. Oleh karena itulah makanya dunia ini tidak pernah berada dalam keadaan ideal dimana semuanya itu sempurna, sebab mayoritas dunia ini masih tetap diisi oleh orang-orang yang senang hidup dalam ketidak sempurnaan.Bagaimanakah mau berharap akan suatu dunia&nbsp; yang tidak sempurna?</p>
<p>Oleh karena itu sebelum anda berakhir dalam ketidak sempurnaan, renungkanlah jalan yang sedang anda lewati saat ini. Siapa tau anda sedang menuju dalam jalan kebinasaan :)&#8230;</p>
</p>
<p>Selamat Paskah</p>
</p>
</p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/04/renungan-paskah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;JANJI JURIST&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/janji-jurist/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/janji-jurist/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 03:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/janji-jurist/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai jurist, saya berjanji bahwa:</p>
<p>Saya akan membaktikan hidup saya, untuk kepentingan dharma hukum yakni kebenaran dan keadilan.</p>
<p>Saya akan melaksanakan tugas dan kewajiban saya, dengan cara terhormat dan cara bersusila, yang bertumpu pada moral yang baik dan luhur.</p>
<p>Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga, martabat dan kehormatan jabatan jurist. Penegakan kebenaran dan keadilan, merupakan tugas dan kewajiban yang selalu saya utamakan.</p>
<p>Dalam mewujudkan keadilan, saya akan beritikad baik, sehingga tidak dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan yang tidak bermoral.</p>
<p>Saya akan menghormati hak-hak setiap orang, sejak saat pembuahan dalam kandungan.</p>
<p>Sekalipun diancam, saya tidak akan menggunakan pengetahuan hukum saya, untuk sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan.</p>
<p>Saya ucapkan janji ini secara sungguh-sungguh, dengan mempertaruhkan kehidupan dan kehormatan diri saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/janji-jurist/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;PERHENTIAN&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/perhentian/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/perhentian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 03:47:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/perhentian/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p>Ada</p>
<p> waktunya<br />
semuanya akan berakhir</p>
</p>
<p class="MsoNormal">Saat dimana sayap-sayap lelah </p>
<p class="MsoNormal">Tidak mampu lagi untuk terbang</p>
<p class="MsoNormal">Menembus badai dan melintasi langit</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Yang tertinggal hanyalah kenangan</p>
<p class="MsoNormal">Tentang perjalanan dan petualangan</p>
<p class="MsoNormal">Senyuman kepuasan dan rasa bangga</p>
<p class="MsoNormal">Hanyalah penghibur ketika menengok belakang</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Tidak ada suatu yang kekal</p>
<p class="MsoNormal">Dalam dunia yang fana</p>
<p class="MsoNormal">Tidak ada keabadian</p>
<p class="MsoNormal">Ketika dihadapkan oleh kematian</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Pada akhirnya hanyalah kesunyian</p>
<p class="MsoNormal">Tidak ada lagi perjalanan</p>
<p class="MsoNormal">Saat semuanya berakhir</p>
<p><span style="font-size: 12pt">Pada sebuah perhentian</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/perhentian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;PATAH HATI&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/patah-hati/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/patah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 03:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/patah-hati/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Distorsi dalam jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Membawa ketidakstabilan dalam sikap</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pikiran dan renungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Teracuni oleh sesuatu yang tidak konstan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kacau dan amburadul</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Semuanya pecah dan berantakan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Menjadi kepingan-kepingan tak berharga</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seperti sebutir garam ditengah lautan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Teriakan teriakan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Cerminan dari goncangan hati</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Yang tidak tau lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apa yang harus dilakukan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Menangis tidak bersedih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tertawa tidak bahagia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Berbisik dengan rintihan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Berteriak dengan meraung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ekspresi yang tidak lazim</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Emosi yang labil</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">cerminan dari keadaan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">gambaran dari perasaaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Aku frustasi dengan kasih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Aku kecewa Dengan cinta</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hari ini aku tertimpa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Kemalangan karena patah hati</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">&nbsp;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/02/patah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Catatan berharga di bulan januari&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/catatan-berharga-di-bulan-januari/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/catatan-berharga-di-bulan-januari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2007 14:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/catatan-berharga-di-bulan-januari/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Blog,<br />Sebenarnya dari kemarin saya lagi kepingin nulis tentang pengalaman baru bekerja dalam event indonesian Idol, namun karena satu lain hal niat itu tidak bisa dipublikasikan untuk menjaga keharmonisan dan kualitas tulisan di blog ini <img src='http://istunta.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> serta menjaga dari kemungkinan adanya oknum-oknum yang bisa tersinggung dengan tulisan saya yang tentunya sekali mengalir tidak akan mengenal batasan..</p>
<p>Januari merupakan awal dari setiap tahun yang baru. Langkah kecil untuk setiap perubahan di tahun berikutnya juga diawali di bulan januari. Biasanya di bulan ini setiap pegawai kantoran dibebani dengan tugas-tugas kerja yang menumpuk dan tentunya tidak lupa target-target yang harus dicapai di tahun ini juga harus sudah ada.Bagi yang masih mahasiswa banyak universitas yang mengadakan ujian akhir semester di awal bulan ini. Sehingga cukup beralasan apabila saya mengatakan bulan januari adalah bulan yang menyibukkan. </p>
<p>Nah sekarang apa hubungannya dengan kehidupan saya secara pribadi ???? Sebenarnya cukup mengherankan juga, di awal tahun ini saya tidak begitu mengalami tekanan yang besar dengan beban kerja ataupun tugas-tugas rutin yang menumpuk. Meskipun ada beberapa pekerjaan yang saya dapatkan (Indonesian Idol and acara wedding besok) namun hal tersebut tidak banyak menyita waktu saya. Bahkan waktu khusus untuk membacapun agak sedikit berkurang. Entah kenapa hal ini bisa terjadi, namun mungkin saja ini bagian dari proses alamiah dari pribadi saya untuk memulihkan kondisi sebelum memasuki masa transisi.</p>
<p>Meskipun porsinya tidak berkala, namun seringkali diselingan waktu-waktu kosong selalu saja ada moment-moment khusus yang membawa pikiran untuk merenungkan langkah-langkah teknis untuk apa dan bagaimana perjalanan yang akan saya tempuh berikutnya. Secara sadar saya mulai diarahkan untuk mulai berpikir pragmatis dan realistis. Namun tentunya sentuhan idealisme tidak serta merta hilang dalam landasan berpijak dalam membuat keputusan.Hal ini seolah-olah membawa saya dalam dunia baru, yang sangat berbeda sekali dengan tahun kemarin. Saat ini kesadaran akan sebuah tanggung jawab jauh lebih besar dan hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kecuali siap dengan konsekwensi logis yang timbul apabila mengabaikannya.</p>
<p>Sekarang, apakah cukup jika semuanya sampai pada tahap memikirkan? nah ini adalah homework yang harus saya kerjakan. Mungkin setelah ini saya akan mulai membuat &quot;Life Plan&quot; 1 tahun kedepan. Saat ini bahasa yang harus digunakan adalah bahasa yg lebih konkrit dan jelas. Untuk itu saya akan mencoba membaca ulang beberapa buku yang dahulu membangunkan saya dari tidur seperti: Berpikir dan Berjiwa Besar,7 Habbits of Higly people dan Peta Jalan Menuju Sukses. Selain itu buku-buku baru seperti time management dan Succes Proppossal berada pada waiting list berikutnya.Hal ini merupakan tahapan brainstroming sebelum masuk dalam tahapan perencanaan strategis. Targetnya akhir&nbsp; bulan januari semuanya harus selesai sebelum perjalanan baru dan petualangan baru segera dimulai.<br />Semoga ini bukanlah hanya sekedar angan-angan dibulan januari, namun merupakan catatan berharga dibulan januari&#8230;</p>
<p>Coba katakan <br />apa yang akan engkau kerjakan<br />stop untuk hanya memikirkan<br />dan tebar pesona<br />saatnya untuk mulai berkarya<br />untuk suatu tujuan<br />suatu kehidupan yang lebih bernilai<br />untuk dirimu dan sesama</p>
<p>Selamat berjuang kawan!!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/catatan-berharga-di-bulan-januari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Hanya milikMu&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/hanya-milikmu/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/hanya-milikmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jan 2007 06:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/hanya-milikmu/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #3366ff">Melihat wajah dan senyumannya<br />menimbulkan kerinduan untuk menemuinya<br />namun kesan yang timbul sejak saat itu<br />membuatku malas untuk kembali menghampirinya</p>
<p>Memang dia tambah manis dan cantik<br />tapi setiap terpaku dengan pesonanya<br />bukanlah keindahan yang aku rasakan<br />tapi memori masa lalu yang kembali terputar dalam pikiranku</p>
<p>Entah kenapa bagian itu belum terhapus dalam ingatanku<br />rasanya belum sembuh benar luka itu<br />padahal itu sudah lama sekali<br />udah bertahun-tahun bahkan</p>
<p>Sungguh aneh dan menyiksa<br />sepertinya secara psikologis aku sakit<br />tapi terkadang hal itu hanya seperti de javu<br />tiba-tiba pergi dan kembali</p>
<p>Pulihkan aku Tuhan<br />aku mau benar-benar total takluk padaMu<br />bosan jiwaku dengan pemberontakan<br />jenuh hatiku dengan kenajisan</p>
<p>Sepertinya perjalanan baru <br />yang bentar lagi kulewati<br />sangat tepat untuk mulai meninggalkan semuanya<br />hilang dalam kenangan masa lalu</p>
<p>Semuanya kembali pada permulaan<br />awal dari suatu langkah<br />dimana yang ada hanya gairah dan harapan<br />akan tercapainya cita-cita dan impian</p>
<p>Bawa aku terbang bersamaMu<br />mengalirkan air kehidupan<br />kemana Engkau menuntunku<br />untuk menjadi cahayaMu</p>
<p>Jangan biarkan aku tersesat lagi<br />dalam sesuatu yang semu<br />aku ingin hidup dalam kebenaranMu<br />dalam setiap langkahku</p>
<p>Cintaku<br />Hasratku<br />Idealismeku<br />hanya milikMu</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/hanya-milikmu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;panggilan untuk kembali&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/panggilan-untuk-kembali/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/panggilan-untuk-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jan 2007 06:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/panggilan-untuk-kembali/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahai manusia<br />sungguh mulia diantara seluruh makhluk<br />unik dan berbeda satu sama lain<br />seperti bunga dengan aneka warnanya</p>
<p>Namun sayang keangkuhan hatimu<br />merusak segala sesuatu <br />yang ada pada genggamanmu<br />bahkan menjadikannya hilang tanpa bekas</p>
<p>Engkau tercipta untuk suatu tujuan ilahi<br />tapi kenapa pemberontakan dan kebebalan<br />selalu menarik dan menyenangkan<br />dalam setiap pilihan dan kemauaanmu?</p>
<p>Sungguh menyedihkan nasibmu<br />tertimpa kebinasaan dan kehancuran<br />sampai kapan engkau mengeraskan hatimu<br />dan berkata tidak pada suara kebenaran?</p>
<p>kembalilah dalam pelukan Bapamu<br />ada cinta yang sanggup memulihkanmu<br />tanpa menuntut suatu apapun<br />yang ada hanya kerinduan untuk memelukmu</p>
<p>Saat semua orang meninggalkanmu<br />tidakkah Dia tetap berada disampingmu<br />meyakinkanmu bahwa engkau aman<br />dalam gendongan kasihNya</p>
<p>Lupakah engkau pada saat-saat itu<br />dimana sukacita dan kebahagiaan<br />menjadi perhiasan dalam melewati hari-harimu?<br />pulanglah karena Dia tetap dengan sabar menantikanmu<br />Untuk kembali</p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/panggilan-untuk-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Selamat Tahun Baru&#8221;</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/selamat-tahun-baru/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/selamat-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jan 2007 20:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/selamat-tahun-baru/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Blog,<br />
Tidak terasa 1 tahun begitu cepat berlalu. Suka dan duka menjadi warna dalam perjalanan selama 1 tahun. Kalau melihat flashback ternyata apa yang telah di capai tahun ini jauh dari apa yang di rencanakan. Sebagaimana tema yang menjadi motivasi dalam melewati tahun 2006 yaitu tahun kemuliaan, jika berbicara jujur persentase pencapaiannya adalah 40%. Sejauh ini pemberontakan dan kesombongan hati masih lebih dominan dan tentu saja kemuliaan yang dimaksud sifatnya hanyalah sesuatu yang duniawi. Susah memang untuk menundukkan diri secara penuh dalam otoritas Sang Kebenaran. Daging ini lebih senang dengan sesuatu yang memabukkan daripada latihan ketaatan.</p>
<p>Namun tuntutan untuk wajib masuk dalam kedewasaan mewarnai pola pikir dalam&nbsp; melangkah di tahun 2007. </p>
<p>Kesadaran bahwa perjalanan yang tidak senyaman tahun-tahun sebelumnya membawa pribadi ini untuk mulai realistis dalam memandang kehidupan. Masa-masa untuk bersenang-senang dan bersantai sepertinya sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan. Hanya bekerja keras dan keberanian untuk menerobos badai yang menjadi rekomendasi yang paling cocok dalam menghadapi tahun 2007. Sama seperti tahun kemarin ketidakpastian menjadi variabel yang sangat sulit untuk diperhitungkan. Yang berbeda dampak psikologis dalam bentuk kekuatiran terasa lebih kental ketimbang tahun kemarin. Mungkin ini disebabkan oleh situasi sekarang yang lebih banyak menuntut untuk lebih banyak menghasilkan daripada hanya sekedar menjalani proses. Bahkan perasaan terasing dalam kesendirian mungkin akan banyak mewarnai perjalanan tahun ini. Saat-saat seperti ini seringkali menjadi bagian paling mengasikkan dalam setiap babak perjalanan. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesadaran untuk keluar dari alam mimpi lebih besar ketimbang keinginan untuk berkubang dalam angan-angan.</p>
<p>Tema tahun ini adalah the year of dominion. Secara filosofis memberikan harapan bahwa dalam tahun ini segala sesuatunya dapat tunduk dalam dominasi total otoritas Ilahi. Ajakan untuk kembali pada titik nol adalah suatu keharusan untuk dapat memaksimalkan potensi yang tertidur. Itulah yang menjadi inti the year of dominian bahwa segala sesuatunya kembali pada dominasi Tuhan dalam kehidupan pribadi. Dengan Dia keyakinan untuk tidak tunduk pada dunia kemunafikan dan pilihan untuk kompromi bukanlah sesuatu yang omong kosong saja. Idealisme untuk tetap berjalan dalam kebenaran pasti akan tetep tidak ketinggalan zaman jika Dia tetap ada di dekatku. Senyuman kemenangan dan sorak kegirangan menjadi kepastian dalam menghadapi segala tantangan yang ada di depan sana. Ketakutan dan kekhawatiran akan dihapuskan dalam kamus perenungan dan tindakan.</p>
<p>Akhir kata tahun ini saya awali dengan doa: &quot;Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku&quot;.<br />
Amen</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2007/01/selamat-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mukzizat Natal</title>
		<link>http://istunta.blog.friendster.com/2006/12/mukzizat-natal/</link>
		<comments>http://istunta.blog.friendster.com/2006/12/mukzizat-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2006 12:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istunta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://istunta.blog.friendster.com/2006/12/mukzizat-natal/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia ke-satu  Di tahun 1914, tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tersebut tentara Perancis, Inggris dan Jerman  saling baku tembak satu dengan yang lain. Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir  setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah  berbulan – bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak  maupun orang tuanya.</p>
<p>Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan   seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi  bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.</p>
<p>Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar   sangat dingin sekali dan saljupun turun dengan lebatnya, mereka bukannya  berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.</p>
<p>Tiada hadiah yang menunggu selainnya peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang jauh, sehingga hari inipun   hamper seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena  turunnya salju. Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan  bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya  seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana  mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka  menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini  Selainnya rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.</p>
<p>Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena barusan saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan  pimpinan mereka yang biasanya keras dan tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat  air matanya turun  berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam  bulan. Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapankah mereka akan bisa pulang  kembali ke rumahnya masing-masing ? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang –  orang yang mereka kasihi ? Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula,  Apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri  dan anak - anaknya ? Entahlah&#8230;</p>
<p>Tidak sepatah katapun terdengar.  Suasana malam yang gelap dan dingin  terasa hening dan sepi sekali,  masing-masing teringat dan memikirkan  keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu seperti demikian.</p>
<p>Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul  dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke  atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille  Nacht, heilige Nacht&#8221; (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut  semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang ini.</p>
<p>Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan  lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit  Sprink tersebut sebelumnya ia dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi  tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam  Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan  menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan  lagu  tersebut, prajurit musuh bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.</p>
<p>Ia bukan hanya sekedar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga  dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh - musuhnya. Melalui nyanyian  tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna  dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia  bersedia mengorbankan jiwanya,  ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi  apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati ?</p>
<p>Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi, sebab pada  saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ, satu demi satu turut  keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai  menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat  musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Dengan perasaan  terharu mereka turut menyanyikan lagu Malam Kudus. Hujan air mata tak dapat dibendung. Air mata dari mereka yang berada jauh dari orangtua, anak,  calon istri, kakak, adik, dan sahabat mereka.</p>
<p>Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan  mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing - masing,  di sinilah rasa damai dan sukacita benar - benar terjadi. Setelah itu,  mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari  Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat,  usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.</p>
<p>Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seyogianya harus  saling tembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam  suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran-Nya Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang  benar - benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.</p>
<p>Saya  berharap melalui tulisan ini dapat membagikan rasa kasih dan  damai kepada rekan - rekan dan para pembaca budiman,  serta mengajak kita  semua untuk merenungkan kembali  makna Natal yang sebenarnya.<br />
Apabila ternyata masih ada luka batin yang belum sembuh, marilah kita mengambil  kesempatan di akhir tahun ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu dengan yang lain, dan biarlah damai bertahta di hati  kita. Dan robohkanlah tembok pemisah diantara kita; entah itu berupa agama,  etnis, kedudukan, harta maupun pendidikan.</p>
<p>Selamat Hari Natal untuk para pembaca dan rekan – rekan yang budiman</p>
<p>Mang Ucup<br />
Email: mang.ucup@gmail.com<br />
Homepage: www.mangucup.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://istunta.blog.friendster.com/2006/12/mukzizat-natal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>