“Saya Hanya Manusia Biasa”
Monday, October 30th, 2006"Satu hal yang perlu kamu tau kamu tuh orang yang banyak omong.
Apa yang kamu omongin gak sesuai dengan yang kamu perbuat"
Dua kali perkataan ini aq dengar dua minggu terakhir. Kata-kata ini seperti pedang bermata dua yang menyayat setiap lapisan hati yang membuatku berpikir kembali tentang kata perubahan.
Aneh bin ajaib, kenapa akhir-akhir ini Tuhan berbicara lewat kata-kata penghakiman?
Seperti palu godam yang mengeluarkan kilatan cahaya secepat itulah panah penghakiman itu melahirkan stigma yang seolah-olah dalam wajahku tertulis "You are Guilty". Sebenarnya bagiku bukanlah masalah siapa yg mengucapkan kata-kata itu. Tapi heran saja, kenapa sepertinya standar kehidupan yang dicap orang ada padaku menimbulkan kesan bahwa aq adalah malaikat yang tidak pernah salah? Lucifer saja sang malaikat penyembah itu yang sering bergaul dengan Tuhan bisa jatuh dalam kesalahan yg membuatnya bisa terusir dari SUrga dan kehilangan kemuliaannya. Bagaimana dengan saya yang hanya manusia penuh dosa yg hanya karena kasih karunia menerima pengampunan?
Kata-kata pembelaan pasti keluar dari setiap orang yang berbuat suatu kesalahan. Alasan klise yang berabad-abad sering diperkatakan adalah "Saya hanya manusia biasa" pasti menjadi ritual umum setiap terdakwa yang didapati melakukan kesalahan. Namun dalam konteks ini saya diajar untuk berpikir bahwa setiap kesalahan yang pernah dilakukan merupakan tugu peringatan bahwa saya bukanlah manusia sempurna yang tidak lepas dari kesalahan. Tapi itu tidaklah cukup, sebab jika hanya sekedar menjadikannya monumen dan tidak berbuat apa-apa setelah itu maka itu tetaplah hanya sekedar usaha menghibur diri.
Karena itu belajarlah untuk tidak bohong dalam perkataan, menyimpang dalam perbuatan dan sesat dalam pikiran. Kenapa harus belajar? Karena perubahan itu tidaklah semudah memejamkan mata. Ketika ingin melihat terang tinggal membuka mata dan ketika ingin menikmati kegelapan tinggal menutup mata.Apakah engkau sedang berteori lagi? Entahlah,memang sulit dipungkiri bahwa dunia praksis berbeda dengan dunia imajiner. Terkadang ada faktor-faktor lain yang membuat pilihan yang diambil berbeda dengan kesimpulan awal. Tapi bukankah masih ada prinsip?
Berbicara mengenai prinsip tidak terlepas lagi pada perbincangan mengenai idealisme. Namun berbicara mengenai sikap maka akan dihadapkan pada pilihan yang absolut dan relativ.Jika menggunakan tolak ukur kebijaksanaan maka mindset "God will" tentu dijadikan prinsip. Namun hal lain dalam diri manusia yaitu "Free will" akan berbicara beda ketika segala sesuatunya diawali dengan kata "Aku".
Jadi harus bagaimana??
Teruslah belajar kawan. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa ketika semuanya diawali dengan kata Aku maka engkau tidak akan pernah bebas dari perkataan "Saya hanya Manusia biasa".
Yesus berkata: ketika Aku akan naik kesurga maka Aku akan memberikan kepadamu Roh Penolong yang akan membantumu dalam segala hal.
Terdengar metafisik namun kalau mau terus berpikir logis maka tetaplah puas dengan perkataan "Saya Hanya manusia Biasa".