Carpe Diem, Quam Minimum Credula postero.
“ Raihlah hari ini, jangan terlalu percaya pada esok."
(Quintus Horatius Flaccus)
Hedonisme (hedone dalam bahasa Yunani berarti kesenangan) sebetulnya
sudah muncul sejak abad ke-4 SM. Bagi para hedonis, yang sungguh baik
bagi manusia adalah yang memberi kesenangan. Bukankah sudah sejak kecil
manusia selalu merasa tertarik akan kesenangan? Bila kesenangan sudah
tercapai, ia tidak akan mencari sesuatu yang lain lagi.
Adalah filsuf Epicurus (341-270 SM) yang memopulerkan paham hedonisme,
suatu paham yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah
tujuan yang paling utama dalam hidup. Filsafatnya dititikberatkan pada
etika yang memberikan ketenangan batin. Kalau manusia mempunyai
ketenangan batin, maka manusia mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup
manusia adalah hedone (kenikmatan, kepuasan). Ketenangan batin
diperoleh dengan memuaskan keinginannya. Manusia harus dapat memilih
keinginan yang memberikan kepuasan secara mendalam. Hedonisme sebagai
suatu “budaya” yang meletakkan dimensi kepuasan materi sebagai suatu
tujuan utama memicu dan memacu pemanfaatan alam dan atau melakukan
aktivitas hidup yang jauh dari dimensi spiritual (moralitas).
Kesadaran akan nilai-nilai etika dan moralitas yang rendah dalam
mencapai tujuan hidup memberikan kepuasan sesaat, dan dampak negatif
yang berjangka panjang.Menurut filsuf Aristipus of Cyrine (435-366 SM),
sesungguhnya kesenangan merupakan rasa dari watak yang lemah lembut dan
merupakan tujuan yang sebenarnya dari kehidupan. Semua kesenangan
nilainya sama, tetapi berbeda dalam tingkat lamanya, kesenangan harus
dikendalikan oleh akal. Pengendalian melalui mekanisme pemikiran (akal)
tidak lain adalah usaha “rasionalisasi” keadaan yang didasarkan atas
upaya penyesuaian antara keinginan sebagai tujuan dengan penyesuaian
melalui pendekatan moral/etika terhadap nilai-nilai sosial dan
spiritual. Keadaan demikian menjamin tercapainya keseimbangan antara
tujuan material dan spiritual, sehingga secara individual tercapai
kepuasan batin yang sempurna.
Menurut Aristoteles (384-322 SM), Tujuan terakhir perbuatan manusia dan
yang diinginkan oleh semua manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia).
Kebahagian yang tertinggi bagi manusia terletak dalam perwujudan dan
kesempurnaan dari perbuatan itu sendiri. Menurut aristoteles, ada dua
macam keutamaan, yaitu keutamaan akal (dianoetikai) dan keutamaan etis
(etikai). Keutamaan akal menyangkut cara berfikir yang tepat, yang
nilainya lebih tinggi daripada keutamaan etis. Keutamaan ini terdiri
dari lima hal yaitu phronesis atau dasar kesusilaan, tehne atau kecapan
seni, episteme atau ilmu pengetahuan, nus atau pengertian asas dan
sophia atau kearifan. Akal, rasa, kehendak berperan dalam perbuatan
susila. Akal memberikan norma terhadap perbuatan yang tepat dan susila,
kehendak menetapkan pilihan yang baik dan rasa menyesuaikan kepada
kehendak dan akal sehingga manusia merasa senang terhadap perbuatan
yang dilakukan. keutamaan kesusilaan terletak diantara dua kutub yang
saling berlawanan, yaitu hyperbole dan eleipsis. Hyperbole ialah
terlalu banyak, dan eleipsis terlalu sedikit. Keutamaan yang terletak
ditengah bersifat dinamis, senantiasa menuju kesempurnaan yang lebih
tinggi. Pertengahan yang tepat berarti kesesuaian perbuatan dengan
norma kesusilaan yang diberikan oleh akal.
Namun dalam perbuatan ini juga manusia memiliki kehendak bebas dalam
memilih tindakannya.Kehendak manusia itu merupakan binatang di antara
dua kubu. Jika Tuhan singgah di situ, dia berhasrat melakukan kehendak
Tuhan. Tapi, jika setan yang singgah, dia berhasrat melakukan kehendak
setan. Jadi manusia tidak memiliki kehendak bebas, karena dia adalah
budak dan pelayan yang baik bagi kehendak Tuhan maupun keendak
setan.("Deservo Arbitrio", Martin Luther).
Hal ini tentunya mengakibatkan secara sadar ataupun tidak sadar manusia
bisa saja terbuai oleh kesenangan sesaat yang ditawarkan oleh apa yang
dinamakan hedonisme itu sendiri.Dan apabila hal ini merasuk kedalam
sendi-sendi keKristenan tentunya kematian rohani tidak bisa terelakkan
lagi..Hedonisme itu sendiri tidak dapat dipungkiri sudah merasuk
kedalam kehidupan gerejawi.Ada berapa banyak Anak Tuhan yang jatuh
dalam Sex bebas,Narkoba, Alkohol,Nikotin,Rokok,Korupsi,hidup pesta
pora?Cobalah berbicara sekali-kali tentang kepedulian sosial,
kelaparan, penanggulangan anak jalanan di hadapan
remaja-remaja/pemuda-pemuda Kristen..Mungkin yang tertarik bisa
dihitung dengan jari.Bandingkan dengan perbincangan mengenai
games,gosip, atau perbincangan tentang World Cup yang akan diadakan
tahun ini.Atau kita lihat fenomena KKR yang kebanyakan dihadiri oleh
orang Kristen sendiri..Sehingga wajar saja seseorang itu bertobat dan 1
jam kemudian kumat lagi dan kemudian datang ke KKR untuk bertobat
lagi…Selain itu kebaktian-kebaktian yang dihadiri oleh Pendeta
terkenal lebih penuh dari pada pendeta yang baru saja merintis dalam
dunia pelayanan.Hal ini justru mengeluarkan sosok Kristus sebagai yang
terutama dan digantikan dengan tokoh-tokoh Karismatik yang dianggap
menyenangkan oleh jemaat, bahkan bisa dipuja secara luar biasa
seolah-olah setiap perkataannya adalah suara Tuhan..Belum lagi
eksklusifitas yang menciptakan egoisme dalam denominasi-denomasi gereja
yang seringkali menyebabkan perselisihan karena satu sama lain saling
menghakimi dan merasa benar sendiri…Sehingga tidak heran ada Anak
yang Hilang justru di dalam komunitas Anak-anak Terang..Bahkan yang
paling menyedihkan terjadinya pengkerdilan akal sebagai dasar
pembenaran bahwa iman yang terutama ketika semua borok-borok yang
diakibatkan oleh Hedonisme itu terungkap secara sistematis yang
dibuktikan oleh fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan KeKristenan
itu sendiri..Pernahkah kita bertanya kenapa tetangga saya belum
bertobat, padahal dimana Anak Tuhan berada dia membawa terang bagi
lingkungannya…Atau bertanya apakah yang terjadi dengan saya, sudah 6
tahun menjadi Kristen tetapi bersaksi tentang Kristus saja tidak pernah
(bandingkan dengan kehidupan jemaat mula-mula dalam Kisah para
rasul)…Atau jangan-jangan fokus kehidupan saya bukan Kristus, tetapi
justru kesenangan yang ditawarkan dunia ini..Mungkin uang, pekerjaan,
keluarga, Makanan, Minuman, Hiburan, atau Sex??
Saatnya kita buka mata dan buka hati, sebab tidak ada satupun yang
disediakan didunia ini memberikan kita kepuasan kekal.Oleh karena
itulah maka ada Firman Tuhan yang mengatakan Carilah dahulu kerajaan
Allah dan kebenaranNya maka semuanya ditambahkan kepadamu… Jika tidak
Hedonisme ibarat kanker yang perlahan namun pasti menggerogoti tubuh
Kristus (dalam hal ini Anak Tuhan) yang akibatnya adalah kematian
rohani yang ujungnya kematian kekal